• ..selamat datang..

    Selamat datang dan terima kasih telah berkunjung.
    Tak sekadar mengumpulkan NASKAH berita yang terpublikasikan di Tabloid Cek&Ricek, situs ini juga menyatukan CERITA tentang suara hati dan cita-cita yang terserak.

    Silahkan klik link di bawah jika Anda tertarik mengikuti cerita dan naskah dari situs ini.

  • Blog Stats

    • 21,961 hits

Osteoarthritis: Hilangnya Pelumas pada Sendi Tulang

Hanya mengisi 10% bagian tubuh, tulang justru menyangga dan menjadi tumpuan bagi 90% kehidupan manusia. Tumpuan yang lebih berat lagi terletak pada sendi tulang.


Sebagai wanita karier dan single mother, Tuti harus banyak bergerak. Setiap hari, wanita berusia 42 tahun ini bangun pada dini hari untuk menyiapkan segala keperluan sekolah kedua putranya.

Di kantor, Tuti juga tak bisa ‘diam’. Pekerja media ini dituntut untuk memiliki mobilitas tinggi agar bisa menemui klien diberbagai tempat. Tak jarang, ia baru ada di rumah lepas dari pukul sembilan malam.

Namun, dua bulan belakangan ini Tuti mulai mengeluh. Rasa nyeri dan kaku pada kaki kanannya memaksa ia lebih banyak berdiam diri. “Sakit kalau ditekuk lama atau melakukan aktivitas berlebih seperti aerobik,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan X rays dan terapi pengobatan atas anjuran dokter tak banyak mengatasi rasa sakit itu. “Memang ada obat penghilang nyeri, tapi masih sering kumat juga,” imbuhnya.

Rasa sakit serupa diutarakan Made. Pria berusia 38 tahun ini pernah jatuh hingga mengalami rusak pada tiga ruas bantalan tulang pinggangnya. Walau sudah menjalani sejumlah terapi, sejak itu, Made mengaku hampir tak pernah lepas dari rasa kaku pada sendi di samping pada kedua lutut dan tulang belakangnya.“Terutama kalau berdiri atau duduk lama dalam satu posisi,” tegasnya.

Rasa nyeri seperti yang dialami Made dan Tuti memang tidak serta menunjukkan gejala penyakit yang sama. Namun, kecenderungan rasa nyeri yang mereka rasakan bisa menjadi indikasi awal adanya sesuatu yang tak normal pada tulang sendi mereka.

”Seperti juga kalau bangun dari berjongkok, lutut sering terasa nyeri. Atau waktu sedang menaiki tangga. Kalau sudah seperti ini, bisa jadi memang orang itu terserang penyakit osteoarthritis,” kata dr. Andito Wibisono, Sp.O.T.

 

Berbeda dengan Osteoporosis

Osteoarthritis memang tidak sepopuler osteoporosis. “Tapi, penyakit ini termasuk dalam kelompok penyakit degeneratif yang banyak diderita mereka yang berusia lanjut,” ungkap Andito, ahli bedah tulang dari Centre of Anthroplasty, Bintaro International Hospital, Tangerang.

Literatur menunjukkan bahwa 1 dari 6 populasi menderita penyakit yang biasa disingkat “OA” ini. Data yang dilansir oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 40 persen penduduk dunia yang berusia lebih dari 70 tahun akan menderita osteoarthritis lutut. Dari jumlah tersebut, 80 persen di antaranya berdampak pada keterbatasan gerak.

Walau gejala dan wilayah sakit keduanya nyaris sama, OA tidak sama dengan osteoporosis. Kedua penyakit ini sama-sama merujuk pada penyakit tulang menahun dan banyak dijumpai pada para wanita usia diatas 50 tahun atau post menopause. ”Orang awam kerap menyamakan OA dengan asam urat dan reumatik. Padahal, penyakit ini sebenarnya menunjuk pada ausnya engsel pada persendian kita,” tegas Andito.

Dipaparkan Andito, OA adalah peradangan pada sendi yang bersifat kronis dan progresif disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi atau pecah dan perlunakan progresif permukaan sendi dengan pertumbuhan tulang rawan sendi di tepi tulang. Kerusakan tulang rawan sendi ini secara alamiah akan dikompensasikan oleh tubuh dengan menumpuk kalsium atau zat kapur, yang ironisnya tidak ‘seluwes’ tulang rawan sendi sehingga menimbulkan rasa nyeri. Karena itupula OA bisa juga disebut dengan istilah pengapuran.

Sementara, osteoporosis atau dikenal sebagai tulang keropos atau kopong yang terjadi akibat massa yang membentuk tulang sudah berkurang. Akibatnya, tulang menjadi kehilangan kepadatan sehingga seringkali tak kuat menahan benturan ringan sekalipun.

Lepas dari mudahnya kemungkinan mengalami fraktur atau patah, tulang yang keropos atau kopong bisa terjadi pada bagian tulang manapun. Jadi, jika dengkul maupun punggung terasa kaku dan nyeri, yang lebih patut untuk ‘dicurigai’ adalah kemungkinan mengalami OA ketimbang osteoporosis.

 

Bisa Akibat Genetis

Dari aspek anatomi medis, OA berawal dari hilangnya kartilago hyalin pada tulang. Jaringan tulang rawan yang elastis ini berfungsi sebagai bantalan atau pelumas yang menjadi tumpuan bagi pergerakan dan pertemuan antara tulang. Adanya kartilago hyali-lah yang membuat pergerakan sendi antar tulang menjadi nyaman tanpa rasa sakit. “Dalam bahasa awam, jaringan ini bisa disebut sebagai engsel atau shock breaker,” kata Andito.

Pada penderita OA, kartilago hyalin mengalami kehilangan atau kerusakan lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk memperbaiki. Akibatnya, engsel tadi kekurangan pelumas sehingga menyebabkan persinggungan antar tulang berdampak pada munculnya rasa nyeri.

Lebih dari itu, rusaknya tulang rawan menyebabkan sendi dan tulang juga ikut berubah. Tubuh akan menumbuhkan tulang baru dengan ‘menggelontorkan’ lebih banyak kalsium atau zat kapur sebagai bentuk mekanisme pertahanan dalam menjaga stabilitas sendi. Padahal, bentuk dasar kalsium yang tajam dan tidak beraturan justru membuat persinggungan antar sendi menjadi terasa semakin nyeri. “Jika kondisi ini dibiarkan, rasa sakit akan makin bertambah. Selain itu, tulang juga bisa mengalami perubahan bentuk atau deformity sehingga dapat menyebabkan cacat permanen pada tulang,” terang Andito.

Kembali dipaparkan Andito, ada dua macam OA, yaitu primer dan sekunder. OA primer terjadi akibat proses penuaan alami sehingga banyak dijumpai pada mereka yang berusia diatas 45 tahun. Bagian yang paling diserang biasanya pada sendi yang paling berat menanggung berat badan, seperti lutut dan panggul maupun punggung, leher, dan jari-jari.

Sementara, OA sekunder umumnya terjadi akibat trauma pada sendi seperti tulang patah atau permukaan sendi yang tidak sejajar seperti pada kaki bentuk O dan X. Penderita OA sekunder juga bisa dipicu oleh faktor genetik dan penyakit metabolik seperti asam urat maupun infeksi sendi seperti tubercolosis atau TBC.

 

Bunyi di Lutut dan Pencegahan

Seperti halnya osteoporosis, OA seringkali muncul secara asimptomatik atau tanpa gejala. Diagnosa penyakit ini dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dan rontgen tulang. “Bila ada laju endap darah dan kolesterol meningkat, maka biasanya sudah dapat diidentifikasi sebagai gejala osteoarthitis,” kata Andito.

Hanya demikian, gejala awal OA sebenarnya bisa dideteksi melalui rasa kaki dan nyeri pada sendi saat digerakkan di pagi hari. Saat kondisi ini dibiarkan, rasa nyeri biasanya semakin terasa setiap melakukan gerakan tertentu, terutama pada saat menopang berat badan. Pada beberapa penderita, rasa nyeri bahkan dapat timbul setelah istirahat lama, misalnya duduk di kursi atau di jok mobil dalam perjalanan jauh.

Gejala OA yang lebih jelas dapat dilihat apabila terjadi pembengkakan atau peradangan pada sendi. Selain itu, persendian yang sakit ini juga berwarna kemerah-merahan. Sebagian penderita bahkan mengalami bunyi –umumnya pada lutut setiap persendian digerakkan walau kadangkala tidak menimbulkan rasa sakit.

OA sendiri bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Selain faktor usia, wanita memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini karena berhubungan dengan hormon estrogen. Karena itu, OA paling banyak dijumpai pada wanita yang sudah memasuki masa menopause.

Bentuk tubuh wanita juga ditengarai lebih mudah mengalami OA ketimbang pria. Merujuk hasil sebuah penelitian, tubuh wanita yang lebih lebar di bagian pinggul menyebabkan penumpukan lemak banyak terjadi di bagian ini. Dampaknya, tulang kaki harus menopang beban lebih berat. Karena itupula, dalam kondisi yang sama, OA sering dialami mereka yang memiliki berat badan berlebih.

Selain itu, OA bisa disebabkan riwayat imobilisasi atau kurangnya gerak tubuh, atau justru ‘stres’ panjang akibat gerak tubuh berlebih seperti pada olahragawan. Penyakit ini diduga juga berkaitan dengan ras, keturunan, dan sistem metabolik tubuh. OA bisa pula disebabkan trauma menahun pada sendi bahkan dari jenis trauma minor sekalipun, seperti sering nyeletek-nyeletekin jari. Ashar F. Anwar

 

Dr. Andito Wibisono, Sp.O.T

Bisa Diganti dengan yang Buatan

Penderita osteoarthritis yang sudah parah bisa diatasi dengan mengganti lutut dengan bahan metal buatan.

 

Upaya terbaik pada penderita osteoarthritis berat dilakukan dengan cara memperbaiki keseimbangan ligamen penyangga sendi hingga bisa seperti semula. Jika pemotongan dan pemasangan proses ini terjadi secara baik dan ligamen bisa stabil, maka kaki yang bengkok bisa menjadi lurus kembali dengan gerakan yang relatif sempurna dan tidak menimbulkan rasa nyeri lagi.

Karena itu, tidak semua ahli tulang bisa melakukan tindakan ini. Berikut paparan dr. Andito Wibisono, ahli tulang dari Centre of Anthroplasty, Bintaro International Hospital yang sempat mendalami berbagai terapi pengobatan penyakit ini di Singapura, Jerman, Belanda, dan Inggris kepada C&R.

Perjalanan penyakit osteoarthritis atau OA terbagi atas empat stadium. Pada stadium yang lebih awal, seperti stadium I dan II, pengobatannya dapat dilakukan dengan pencegahan melalui program penurunan berat badan, olahraga yang disesuaikan dengan kondisi penderita serta pemberian obat-obatan, suntikan sendi dan fisioterapi.

Namun, jika sudah masuk stadium berat (stadium IV), maka tidak bisa lagi diatasi dengan hanya diberi obat-obatan atau vitamin tulang, pasalnya sel-sel permukaan rawan sendi sudah habis. Tindakan yang harus dilakukan adalah arthroplasty atau joint replacement atau total knee replacement.

Joint replacement ini sebenarnya dilakukan untuk mengganti permukaan rawan sendi yang rusak dengan permukaan sendi buatan atau artifisial. Jadi, sendi pada lutut, misalnya, akan direparasi seluruhnya dan digantikan dengan bahan metal buatan.

Namun, tindakan bedah ini tidak mudah karena dari celah luka operasi yang sempit, kami harus meratakan sendi secara akurat agar permukaan sendi buatan (prothese) dapat duduk pada posisi yang stabil. Sebagai contoh, arthroplasty sendi lutut memerlukan 25 tahap sebelum prothese dapat dipasang. Satu kesalahan saja akan menyebabkan sendi lutut tak bisa bergerak dengan sempurna, bahkan kadang-kadang sendi yang dioperasi tidak bisa bergerak.

Operasi arthroplasty ini tingkat keberhasilannya tinggi, karena operasi ini didampingi oleh tim dokter yang lengkap yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, spesialis jantung, spesialis anestesi dan spesialis rehabilitasi medik. Tim ini diperlukan untuk menjaga kondisi penderita baik sebelum maupun sesudah operasi. Patut diingat, sebagian besar pasien yang menjalani operasi ini adalah pasien dengan usia lanjut.

 

10 Kiat Mencegah Osteoarthritis

1. Menjaga berat badan untuk mengurangi beban berlebih yang harus ditopang sendi.

2. Melakukan olahraga yang tidak banyak menggunakan persendian atau yang menyebabkan terjadinya perlukaan sendi. Contohnya berenang dan olahraga yang bisa dilakukan sambil duduk dan tiduran.

3. Aktivitas olahraga hendaknya disesuaikan dengan umur. Jangan memaksa untuk melakukan olahraga porsi berat pada usia lanjut.

4. Sebaliknya, tidak dianjurkan untuk tidak melakukan aktivitas gerak. Tubuh yang tidak pernah digerakkan akan mengundang osteoporosis.

5. Menghindari perlukaan pada persendian.

6. Mengkonsumsi makanan sehat.

7. Memilih dan menggunakan alas kaki yang tepat dan nyaman.

8. Lakukan relaksasi dengan berbagai teknik.

9. Hindari melakukan kebiasaan meregangkan sendi jari tangan.
10. Jika ada deformitas pada lutut, misalnya kaki berbentuk O, jangan dibiarkan.
Hal tersebut akan menyebabkan tekanan yang tidak merata pada semua permukaan tulang.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.